MENGHADAPI TANTANGAN 50 KALI LIPAT
MENGHADAPI TANTANGAN 50 KALI LIPAT
Eddie HaLL, pemecah rekor dunia berhasil mengangkat beban sebesar 500 kg. Berat badan Eddie sendiri adalah 185 Kg. Jadi, ia mengankat beban hampir 3 kali lipat berat tubuhnya. Itu sudah sangat luar biasa. Tetapi menurut ensiklopedia, semut adalah hewan yang jauh lebih kuat dari Eddie. Semut mampu mengangkat benda yang beratnya 50 kali beart tubuhnya. Jika saya jadi semut, maka itu artinya saya bisa mengangkat 2 mobil SUV seorang diri. Apakah semut pernah membaca riset yang menampilkan data kekuatannya itu? Tentu tidak . Semut tidak melakukan riset mengukur kekuatan mereka. Namun, mereka tahu saat ada makanan ( Kesempatan ) di depannya, ia mau mencobanya.
Mentalitas seperti inilah yang dibutuhkan. Kita memang mungkin kecil. Tapi, ada dua jenis perasaan “merasa kecil” yang bisa membawa dua dampak yang berlawanan. Ada perasaan kecil yang negative. Ini sering kali muncul karena kritikan atau hinaan orang terhadap kita, atau juga dari diri kita sendiri. Kita diremehkan, dianggap tidak penting, dan kita menyetujuinya. Maka, kita pun selalu ragu apakah kita bisa melakukan hal hal besar. Namun, ada juga perasaan kecil yang positif. Saat kita di puncak gunung, di tengah laut lepas, atau sedang melihat visualisasi bumi dan antariksa, misalnya, kita merasa diri begitu kecil. Namun, apakah kita lalu menjadi minder? Tidak, Kita justru termotivasi. Kita menyadari ternyata peluang masih banyak, kesempatan masih besar, bahkan kita punya Tuhan yang Maha Besar. Kita tidak berpuas diri tetapi juga tidak menyombongkan diri.
Tantangan di depan kita mungkin tidak bertambah mudah. Kompetisi yang kita hadapi mungkin makin sengit. Jauh lebih besar dari yang dihadapi para pendahulu kita. Kita merasa kecil dan lemah. Namun, perasaan kecil seperti apa yang kita miliki? Daud saat melawan Goliat, ia sangat pede. Tetapi itu bukan karena Daud sombong, melainkan karena sadar ia punya Allah yang besar. Daud pun berkali kali mengungkapkan betapa dahsyat Allah dan betapa kecil dirinya. Sadari bawah kita kecil tetapi bukan supaya kita minder. Sadari bahwa kita punya Tuhan yang besar, tetapi jangan sampai itu membuat kita menjadi sombong. Itulah kepercayaan diri anak Tuhan.
Kecil bukan karena lemah tapi kecil karena masih banyak hal yang bisa diraih.
*“Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam.”*
( 1 Samuel 17:45 )
Eddie HaLL, pemecah rekor dunia berhasil mengangkat beban sebesar 500 kg. Berat badan Eddie sendiri adalah 185 Kg. Jadi, ia mengankat beban hampir 3 kali lipat berat tubuhnya. Itu sudah sangat luar biasa. Tetapi menurut ensiklopedia, semut adalah hewan yang jauh lebih kuat dari Eddie. Semut mampu mengangkat benda yang beratnya 50 kali beart tubuhnya. Jika saya jadi semut, maka itu artinya saya bisa mengangkat 2 mobil SUV seorang diri. Apakah semut pernah membaca riset yang menampilkan data kekuatannya itu? Tentu tidak . Semut tidak melakukan riset mengukur kekuatan mereka. Namun, mereka tahu saat ada makanan ( Kesempatan ) di depannya, ia mau mencobanya.
Mentalitas seperti inilah yang dibutuhkan. Kita memang mungkin kecil. Tapi, ada dua jenis perasaan “merasa kecil” yang bisa membawa dua dampak yang berlawanan. Ada perasaan kecil yang negative. Ini sering kali muncul karena kritikan atau hinaan orang terhadap kita, atau juga dari diri kita sendiri. Kita diremehkan, dianggap tidak penting, dan kita menyetujuinya. Maka, kita pun selalu ragu apakah kita bisa melakukan hal hal besar. Namun, ada juga perasaan kecil yang positif. Saat kita di puncak gunung, di tengah laut lepas, atau sedang melihat visualisasi bumi dan antariksa, misalnya, kita merasa diri begitu kecil. Namun, apakah kita lalu menjadi minder? Tidak, Kita justru termotivasi. Kita menyadari ternyata peluang masih banyak, kesempatan masih besar, bahkan kita punya Tuhan yang Maha Besar. Kita tidak berpuas diri tetapi juga tidak menyombongkan diri.
Tantangan di depan kita mungkin tidak bertambah mudah. Kompetisi yang kita hadapi mungkin makin sengit. Jauh lebih besar dari yang dihadapi para pendahulu kita. Kita merasa kecil dan lemah. Namun, perasaan kecil seperti apa yang kita miliki? Daud saat melawan Goliat, ia sangat pede. Tetapi itu bukan karena Daud sombong, melainkan karena sadar ia punya Allah yang besar. Daud pun berkali kali mengungkapkan betapa dahsyat Allah dan betapa kecil dirinya. Sadari bawah kita kecil tetapi bukan supaya kita minder. Sadari bahwa kita punya Tuhan yang besar, tetapi jangan sampai itu membuat kita menjadi sombong. Itulah kepercayaan diri anak Tuhan.
Kecil bukan karena lemah tapi kecil karena masih banyak hal yang bisa diraih.
*“Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam.”*
( 1 Samuel 17:45 )
Komentar
Posting Komentar